Pernah tidak Anda merasa sudah pasang kaca film paling gelap, tipe 80 persen keliling bodi, yang saking gelapnya sampai kalau parkir malam hari harus buka jendela biar kelihatan, tapi anehnya saat matahari terik kabin mobil tetap terasa seperti oven? AC sudah diputar ke level paling dingin, blower sudah menyembur kencang sampai suaranya berisik, tapi rasanya cuma angin doang yang keluar dan kurang nyes di kulit. Keringat tetap mengucur dan punggung baju basah menempel di jok.
Banyak pemilik mobil yang langsung memvonis sistem AC-nya bermasalah. Mereka datang ke bengkel sambil ngomel bilang freon bocor atau kompresor sudah lemah. Padahal setelah kita cek pakai manifold gauge, tekanan freon normal, kompresor juga kompresinya padat, dan tidak ada kebocoran sama sekali. Masalah sebenarnya ternyata bukan di balik kap mesin, melainkan menempel di kaca jendela Anda. Ada salah kaprah besar di dunia otomotif kita yang menganggap semakin gelap kaca film, maka semakin dingin kabinnya. Padahal faktanya, gelap itu urusan mata, sedangkan panas itu urusan energi.
Jebakan Istilah VLT dan TSER
Di dunia kaca film, kita sering terjebak dengan angka persentase kegelapan yang biasa disebut orang bengkel variasi sebagai 40 persen, 60 persen, atau 80 persen. Dalam bahasa teknis, ini namanya VLT atau Visible Light Transmission. Ini cuma ukuran seberapa banyak cahaya matahari yang tembus dan bisa dilihat mata. Kalau VLT-nya kecil, kacanya memang gelap dan bikin orang luar susah mengintip ke dalam. Tapi, cahaya tampak itu tidak membawa panas yang jahat.
Musuh utama kinerja AC mobil sebenarnya adalah sinar Inframerah (IR) dan Ultraviolet (UV). Di sinilah parameter TSER atau Total Solar Energy Rejected berperan. TSER adalah kemampuan kaca film untuk menolak total energi matahari, termasuk panas yang dibawa oleh inframerah. Bayangkan Anda memakai kantong kresek hitam di kepala lalu berdiri di bawah matahari. Gelap memang, tapi panasnya pasti menyengat minta ampun. Begitu juga kaca film murah yang cuma menang gelap (VLT rendah) tapi TSER-nya rendah. Panas tetap masuk menembus kaca, memanaskan dashboard, jok kulit, dan plafon sampai suhunya ekstrem.
Beban Berat di Pundak Kompresor
Mungkin Anda bertanya, apa hubungannya kaca film jelek dengan kesehatan AC mobil? Hubungannya sangat erat seperti piston dan olinya. Sistem kerja AC mobil itu dikendalikan oleh suhu. Ketika kita setel suhu kabin di angka tertentu, ada sensor bernama thermistor yang bertugas memantau suhu ruangan. Kalau suhu kabin sudah tercapai, sensor ini akan menyuruh ECU untuk memutus arus ke magnet clutch, sehingga kompresor berhenti berputar (cut-off) untuk istirahat sejenak.
Nah, kalau kaca film Anda TSER-nya rendah, panas matahari akan terus menerus “menyerang” masuk ke dalam kabin. Akibatnya, suhu di dalam mobil tidak kunjung turun ke level target meskipun AC sudah nyala maksimal. Thermistor akan membaca bahwa ruangan masih panas, dan ia tidak akan mengizinkan kompresor untuk istirahat. Kompresor dipaksa bekerja lembur tanpa henti. Efek jangka pendeknya tentu konsumsi BBM jadi boros karena mesin terbebani terus. Efek jangka panjangnya jauh lebih menyakitkan dompet karena magnet clutch bisa cepat hangus, piston kompresor aus dan mulai bunyi ngorok, atau sistem overheat yang bikin tekanan naik drastis.
Pilih Spek Teknis, Bukan Cuma Tampilan
Supaya AC mobil kita kerjanya ringan dan komponennya awet sampai bertahun-tahun, cara memilih kaca film harus diubah. Jangan lagi datang ke toko variasi cuma bilang minta yang paling gelap. Mulailah cerewet menanyakan spesifikasi tolak panasnya.
- Carilah kaca film yang memiliki angka TSER tinggi, idealnya di atas 50 persen atau lebih. Semakin tinggi angkanya, semakin sedikit panas yang masuk ke kabin, sehingga beban pendinginan AC jadi jauh lebih ringan.
- Perhatikan kemampuan tolak Inframerah atau IRR (Infrared Rejection). Sinar inframerah ini yang paling bertanggung jawab bikin kulit terasa perih dan dashboard panas saat disentuh.
- Jangan ragu memilih kaca film yang agak terang (misalnya 40 persen) asalkan teknologi tolak panasnya bagus, seperti jenis nano-ceramic. Kaca yang agak bening tapi dingin jauh lebih baik buat AC daripada kaca gelap tapi panas.
Jadi, kalau kaca film Anda sudah punya spesifikasi tolak panas yang mumpuni, kerja AC akan terasa sangat ringan. Kompresor akan sering melakukan cut-off, bensin lebih irit, dan udara yang keluar dari kisi-kisi AC akan terasa nyes dinginnya karena tidak bertarung melawan panas yang masuk dari jendela. Namun, kalau Anda merasa sudah pakai kaca film mahal yang speknya “dewa” tapi AC masih saja terasa ngempos atau cuma keluar angin, itu baru tanda lampu merah. Bisa jadi memang ada masalah teknis seperti evaporator lendir, kondensor mampet, atau katup ekspansi macet. Kalau kondisinya sudah begini, jangan ditunda lagi untuk mampir ke bengkel dan biarkan mereka cek tekanan serta kondisi komponen sebelum kerusakannya merembet ke mana-mana.





