Perbedaan Karakteristik Freon R134a vs R404a pada Kendaraan Pendingin (Box Freezer)

Perbedaan Karakteristik Freon R134a vs R404a

Pernah mengalami kejadian begini saat sedang mengantar muatan beku? Thermostat di box pendingin sudah disetel ke angka minus maksimal, mesin pendingin menderu kencang, tapi suhu di dalam box sepertinya enggan turun. Daging atau es krim yang dibawa malah mulai lembek alias lumer saat sampai di tujuan. Rasanya pasti panik setengah mati, apalagi kalau klien mulai komplain barang rusak. Seringkali, masalah ini bukan karena mesinnya rusak total, melainkan karena ketidakpahaman kita soal “darah” yang mengalir di dalam sistem pendingin tersebut, yaitu freon atau refrigeran.

Banyak pemilik armada atau bahkan teknisi pemula yang menganggap semua freon itu sama saja. Asal dingin, ya sudah. Padahal, pada kendaraan pendingin atau box freezer, pemilihan jenis freon ini sangat krusial. Dua pemain utama yang sering kita temui di lapangan adalah R134a dan R404a. Salah pilih atau salah penanganan di antara keduanya bisa bikin kompresor ngorok, tekanan ngempos, atau malah muatan jadi bubur.

Beda Fokus, Beda Tenaga

Mari kita bedah satu per satu tanpa bahasa yang njelimet. R134a ini ibarat mobil kota yang gesit untuk pemakaian harian. Karakteristiknya santai dengan tekanan kerja yang relatif rendah. Biasanya, freon jenis ini lebih sering kita temukan pada unit pendingin yang tujuannya hanya untuk “chiller” atau pendingin segar. Kalau muatan Anda adalah sayur-sayuran, buah, atau obat-obatan yang hanya butuh suhu di kisaran 0 hingga 5 derajat Celcius, R134a adalah jagonya. Dia bekerja efisien tanpa membebani kerja kompresor secara berlebihan karena titik didihnya ada di kisaran minus 26 derajat Celcius.

Sebaliknya, R404a adalah monster di dunia pendingin transportasi. Ini adalah freon yang memang didesain untuk tugas berat alias “heavy duty”. Kalau R134a itu mobil kota, R404a ini truk tronton yang siap angkut beban berat. Titik didihnya jauh lebih rendah, bisa mencapai minus 46 derajat Celcius. Makanya, R404a ini wajib hukumnya dipakai untuk angkutan “frozen” atau beku seperti daging impor, ikan laut, atau es krim yang butuh suhu stabil di minus 18 sampai minus 20 derajat Celcius.

Tekanan Kerja yang Jauh Berbeda

Perbedaan paling terasa bagi kita orang bengkel saat memasang manifold gauge adalah tekanannya. R404a punya tekanan kerja (discharge pressure) yang jauh lebih tinggi dibandingkan R134a. Ini poin penting yang sering luput. Karena tekanannya tinggi, sistem yang menggunakan R404a butuh komponen yang lebih badak. Selang-selangnya harus lebih kuat, kondensornya harus lebih luas pelepas panasnya, dan kompresornya harus punya tenaga dorong yang lebih besar.

Bayangkan kalau Anda memaksa mengisi sistem yang dirancang untuk R134a dengan R404a demi mengejar suhu beku. Apa yang terjadi? Kompresor bakal menjerit karena dipaksa memompa tekanan yang di luar batas kemampuannya. Lama-lama suara kompresor bakal kasar, ngorok, dan akhirnya macet total alias jebol. Belum lagi risiko selang atau sambungan pipa yang bisa pecah karena tidak kuat menahan dorongan gasnya.

Masalah Pengisian Gas vs Cair

Nah, ini juga sering jadi jebakan betmen buat teknisi yang kurang teliti. R134a adalah refrigeran tunggal, jadi mau diisi dalam bentuk gas atau cair, kandungannya tetap sama. Tapi R404a itu beda cerita. Dia adalah refrigeran campuran atau “blend”. Kalau Anda mengisi R404a dalam bentuk gas (tabung posisi berdiri), yang masuk ke sistem komposisinya bisa kacau karena salah satu zat penyusunnya menguap duluan. Hasilnya pendinginan jadi tidak maksimal, cuma angin doang yang keluar, kurang nyes rasanya.

Untuk R404a, pengisian wajib hukumnya dalam bentuk cair (tabung dibalik). Ini detail kecil tapi fatal akibatnya kalau diabaikan. Seringkali ada unit masuk bengkel dengan keluhan suhu tidak mau turun, padahal freon penuh. Setelah dicek, ternyata dulu diisi dengan cara yang salah sehingga komposisi kimianya sudah tidak murni lagi.

Oli Kompresor dan Kebersihan Sistem

Urusan pelumas atau oli kompresor juga tidak kalah penting. Kedua jenis freon ini umumnya bersahabat dengan oli jenis Polyolester (POE). Tapi, tingkat kekentalan oli yang dibutuhkan bisa berbeda tergantung beban kerjanya. R404a yang bekerja keras di suhu ekstrem butuh oli yang bisa tetap melumasi dengan baik meski di suhu sangat rendah agar tidak membeku dan menyumbat kapiler atau ekspansi.

Masalah yang sering kita temui di lapangan adalah kondisi kondensor yang kotor parah. Pada sistem R404a, kondensor kotor itu musuh utama. Karena tekanan kerjanya sudah tinggi, kalau pelepasan panas terhambat kotoran, tekanan di sisi High Pressure (HP) akan melonjak gila-gilaan. Ini sering bikin sistem otomatis “cut-off” atau mati sendiri demi keamanan. Jadi kalau AC box freezer Anda sering mati-hidup sendiri padahal suhu belum tercapai, coba intip kondensornya, jangan-jangan sudah tertutup debu jalanan.

Pentingnya Cek Spesifikasi Awal

Jadi, kalau ada yang bilang bisa bikin box freezer Anda lebih dingin cuma dengan ganti jenis freon dari R134a ke R404a tanpa ganti sparepart lain, jangan langsung percaya. Itu resep bencana buat dompet Anda di kemudian hari. Sistem pendingin itu sudah dihitung matang-matang dari pabriknya. Mengubah jenis freon berarti mengubah “nyawa” dari sistem tersebut.

Cara paling aman adalah selalu cek plat spesifikasi yang menempel di unit kompresor atau body box pendingin. Ikuti standar pabrikan. Kalau unit memang didesain untuk R134a, gunakan untuk muatan chiller saja. Jangan paksa angkut es krim. Kalau memang butuh angkutan beku, pastikan unit Anda memang berspesifikasi R404a sejak awal.

Intinya begini, merawat kendaraan pendingin itu butuh ketelitian ekstra dibanding AC mobil biasa karena taruhannya adalah muatan bernilai jutaan rupiah. Jangan ragu untuk melakukan pengecekan rutin pada tekanan freon dan kebersihan kondensor sebelum berangkat mengantar barang. Kalau Anda merasa performa pendinginan mulai loyo, terdengar bunyi aneh dari kompresor, atau sekadar ingin memastikan armada siap tempur, mending langsung bawa saja ke bengkel untuk dicek menyeluruh daripada mogok kerja di tengah jalan.