Protokol Penanganan Mobil Banjir: Langkah Demi Langkah Menyelamatkan Sistem AC yang Terendam

Langkah Demi Langkah Menyelamatkan Sistem AC Mobil Terendam

Melihat mobil kesayangan terendam air banjir itu rasanya campur aduk, antara panik, sedih, dan bingung harus mulai dari mana. Begitu air surut, naluri pertama kita biasanya ingin langsung menyalakan mesin dan menghidupkan AC untuk mengusir embun di kaca atau sekadar memastikan semuanya “normal”. Tahan dulu keinginan itu. Menyalakan AC saat komponen masih basah atau penuh lumpur adalah kesalahan paling fatal yang sering dilakukan pemilik mobil. Bukannya dingin kembali, tindakan buru-buru ini justru bisa bikin dompet jebol karena kerusakan merembet ke mana-mana.

Masalah utama dari mobil kebanjiran bukan hanya airnya, tapi lumpur dan kotoran yang terbawa. Sistem AC mobil kita itu posisinya cukup rendah di ruang mesin, terutama bagian kompresor. Kalau genangan air sudah menyentuh setengah ban atau bumper, besar kemungkinan bagian magnetic clutch atau kopling magnet AC sudah ikut “berenang”. Bayangkan begini, magnetic clutch itu bekerja dengan celah yang sangat sempit. Kalau di sela-sela itu ada lumpur yang mengering lalu kita paksa berputar, efeknya sama seperti kita memasukkan pasir ke dalam sendi lutut lalu dipaksa lari maraton. Pasti akan bunyi kasar, berdecit, atau malah macet total.

Langkah pertama yang wajib dilakukan saat mobil habis terendam adalah inspeksi visual tanpa menyalakan kontak AC. Buka kap mesin dan cek area kompresor. Lihat apakah ada sisa lumpur atau sampah yang menyangkut di area pulley dan belt. Lumpur yang mengering akan menjadi keras seperti semen. Kalau ini dipaksa berputar, bearing bisa langsung rontok atau belt putus seketika. Jangan sekali-kali mencoba menyalakan AC kalau Anda masih melihat sisa lumpur di area bawah mesin, sekecil apapun itu.

Selain kompresor, kita juga harus waspada pada bagian kelistrikan, khususnya motor extra fan atau kipas kondensor. Komponen ini seringkali luput dari perhatian. Motor fan yang terendam air kotor berpotensi mengalami korsleting atau short di dalam gulungannya. Kalau dipaksa on, arusnya bisa balik menghantam sekring atau relay, bahkan merusak ECU di beberapa mobil modern. Kalau kipas ini mati tapi kompresor jalan, tekanan freon akan melonjak tinggi (high pressure) sampai overheat, dan akhirnya kompresor bisa jebol atau ngorok parah karena pelumasannya gagal.

Nah, bicara soal pelumasan, oli kompresor itu ibarat darah bagi sistem AC. Kalau sampai ada air yang merembes masuk ke dalam sistem meskipun kemungkinannya kecil jika sistem tertutup rapat oli akan bercampur air dan berubah warna jadi putih susu atau keruh. Sifat pelumasnya hilang seketika. Gesekan antar piston di dalam kompresor akan terjadi tanpa pelindung, menghasilkan gram-gram besi halus yang bakal menyumbat ekspansi dan kondensor. Kalau sudah begini, mau tidak mau harus ganti satu set komponen alias turun sistem total, dan biayanya jelas tidak murah.

Masalah makin runyam kalau air banjir sempat masuk ke dalam kabin. Bagian yang paling menderita biasanya adalah evaporator. Letaknya yang ada di balik dashboard bagian bawah membuatnya rentan terendam. Evaporator memiliki sirip-sirip halus yang sangat rapat. Sekali saja air kotor masuk ke sana, lumpur dan bakteri akan mengendap di sela-sela sirip tersebut. Meskipun luarnya terlihat kering, bagian dalamnya seringkali masih lembap dan jadi sarang jamur.

Inilah penyebab kenapa AC mobil bekas banjir sering mengeluarkan bau apek yang menyengat atau bau got yang susah hilang. Sekadar semprot parfum mobil tidak akan mempan karena sumber baunya ada di dalam evaporator yang tertutup lendir kotoran. Selain bau, kotoran yang menumpuk juga akan menghambat aliran udara. Akibatnya angin yang keluar dari kisi-kisi AC jadi pelan atau cuma “ngempos”, padahal setelan blower sudah maksimal. Kalau dibiarkan, evaporator bisa korosi karena sifat asam dari air banjir, lalu bocor halus, dan akhirnya freon abis terus-menerus.

Jadi langkah paling bijak setelah mobil dievakuasi dari banjir adalah fokus pada pembersihan total sebelum pengetesan. Cuci bersih area ruang mesin dengan air tekanan rendah untuk merontokkan lumpur, tapi hati-hati jangan semprot langsung ke soket kelistrikan. Pastikan area magnetic clutch benar-benar bersih dan pulley bisa diputar lancar dengan tangan (saat mesin mati) tanpa ada suara gesekan pasir. Untuk bagian kabin, kalau karpet dasar basah, besar kemungkinan evaporator juga perlu diturunkan untuk dicuci secara manual di luar mobil agar bersih maksimal.

Proses pemulihan ini memang butuh waktu dan kesabaran, tapi jauh lebih hemat daripada harus ganti kompresor. Kalau Anda merasa ragu atau melihat ada endapan lumpur yang sulit dijangkau, sebaiknya jangan ambil risiko. Bawa saja mobilnya ke bengkel dengan cara diderek atau dikendarai tanpa menyalakan AC sama sekali (buka jendela).

Biarkan teknisi bengkel mobil yang melakukan pengecekan menyeluruh, mulai dari bersihkan magnetic clutch, cek kelayakan oli kompresor, sampai cuci evaporator biar udaranya kembali segar dan nyes lagi. Lebih baik keluar biaya sedikit untuk servis besar dan pembersihan di awal, daripada harus keluar jutaan rupiah karena komponen utama rontok akibat dipaksa kerja keras saat kotor.