Pasang AC di Truk Tua, Jangan Cuma Modal Dingin Tapi Mesin Jadi Korban
Bawa truk lawas tanpa AC di tengah kemacetan atau jalanan pantura yang panasnya minta ampun itu rasanya luar biasa menyiksa. Keringat bercucuran sampai baju basah kuyup, konsentrasi buyar, dan emosi jadi gampang tersulut. Kalau sudah begini, mau nyetir jarak jauh pun rasanya jadi dua kali lebih capek. Wajar kalau banyak pemilik truk atau juragan ekspedisi akhirnya memutuskan untuk pasang AC baru atau retrofit di unit armada lamanya. Niatnya bagus, biar sopir lebih nyaman dan kerja makin produktif.
Tapi masalahnya, seringkali kita melihat kasus di mana truk tua dipaksa pasang AC tanpa perhitungan matang. Asal kompresor nempel dan angin keluar dingin, dianggap beres. Padahal, memasang sistem pendingin di mesin yang aslinya tidak didesain untuk itu punya risiko besar kalau tidak hati-hati. Bukan cuma AC-nya yang sebentar-sebentar jebol, tapi bisa merembet ke kabel bodi yang hangus terbakar atau bahkan dudukan mesin yang rontok karena getaran ekstrem. Bukannya untung, malah truk harus nongkrong lama di bengkel karena perbaikan yang sebetulnya bisa dicegah.
Urusan Listrik Jangan Asal Sambung Kabel
Sistem kelistrikan truk tua itu ibarat pipa air di rumah zaman dulu yang ukurannya kecil. Kalau kita paksa alirkan air debit besar dari pompa baru, pipanya bisa pecah. Begitu juga dengan kelistrikan. Truk lawas biasanya hanya dibekali alternator atau dinamo ampere dengan kapasitas pas-pasan, hanya cukup untuk lampu, wiper, dan starter. Ketika kita tambahkan sistem AC yang menyedot daya besar, terutama untuk magnetic clutch dan extra fan, dinamo bawaan bakal “tekor”. Akibatnya, aki jadi cepat soak karena pengisian tidak maksimal, dan di malam hari lampu utama bakal meredup saat AC nyala.
Langkah pertama yang wajib kita lakukan adalah upgrade alternator. Kita harus hitung ulang kebutuhan dayanya. Kalau alternator bawaan cuma 35 Ampere, biasanya perlu kita ganti atau gulung ulang menjadi minimal 50 sampai 80 Ampere, tergantung seberapa besar sistem AC yang dipasang. Ini penting supaya suplai listrik tetap stabil meskipun AC, lampu, dan wiper nyala bersamaan.
Selain alternator, urusan kabel dan relay juga tidak kalah vital. Jangan pernah menyambung arus utama kompresor langsung dari kunci kontak tanpa lewat relay. Saklar di dashboard itu tidak dirancang menahan beban arus besar yang terus-menerus. Kalau dipaksa, saklar bisa meleleh dan memicu korsleting. Kita wajib pasang relay berkualitas untuk memutus dan menyambung arus besar langsung dari aki, sehingga saklar hanya berfungsi sebagai pemicu ringan saja. Gunakan kabel dengan serabut tebal dan bungkus dengan selongsong pelindung panas, karena ruang mesin truk itu suhunya jauh lebih sadis daripada mobil pribadi.
Dudukan Kompresor: Presisi atau Hancur
Tantangan terbesar kedua adalah membuat dudukan atau bracket kompresor. Ingat, mesin truk diesel itu getarannya kuat sekali. Kalau bracket yang kita buat tidak kokoh atau posisinya miring sedikit saja, siap-siap saja fan belt bakal sering putus atau selip yang bikin bunyi mencicit tidak enak didengar. Lebih parah lagi, bracket yang tidak presisi bisa bikin as kompresor patah karena putarannya tidak “center” dengan puli mesin utama.
Pembuatan bracket ini butuh seni tersendiri. Kita harus mencari titik mounting di blok mesin yang paling kuat, biasanya menumpang di baut-baut besar blok mesin. Pelat besi yang dipakai juga harus tebal, minimal 6 milimeter atau lebih, dan dilas dengan matang supaya tidak retak kena guncangan jalan rusak. Posisi puli kompresor harus benar-benar sejajar lurus dengan puli kruk as. Meleset satu atau dua milimeter saja, belt akan cepat aus di satu sisi dan serbuk karetnya bakal mengotori ruang mesin.
Kita juga perlu memikirkan tambahan puli atau “idle pulley” untuk mengatur kekencangan belt. Sistem AC retrofit biasanya membebani putaran mesin saat idle atau langsam. Tanpa setelan yang pas, mesin truk bisa mati mendadak saat kompresor menyala atau “ceklek”. Di sinilah kita perlu memasang alat tambahan bernama idle up. Alat ini bekerja menaikkan sedikit gas secara otomatis ketika AC dinyalakan, supaya mesin tidak “ngempos” atau drop tenaganya saat beban kompresor masuk. Tanpa ini, sopir bakal kerepotan harus main gas terus saat berhenti di lampu merah.
Perawatan Setelah Pasang Baru
Setelah semua terpasang rapi dan hawa kabin sudah nyess dinginnya, bukan berarti tugas selesai. Sistem retrofit butuh perhatian lebih dibanding AC bawaan pabrik. Sopir atau mekanik harus rajin mengintip kondisi belt setiap pagi sebelum memanaskan mesin. Kalau terlihat ada retak rambut atau belt mulai kendor, segera kencangkan atau ganti. Jangan tunggu sampai putus di jalan karena kalau belt AC putus dan membelit belt lain, bisa-bisa water pump atau alternator ikut macet.
Cek juga baut-baut bracket secara berkala. Getaran mesin diesel yang khas bisa membuat baut yang sudah dikunci mati pun lama-lama jadi longgar. Kalau terdengar bunyi “gluduk-gluduk” atau suara logam beradu dari area mesin saat AC nyala, itu tanda bahaya. Matikan AC segera dan cek kekencangan baut dudukan kompresornya. Jangan dipaksa jalan terus karena bracket yang longgar bisa merusak blok mesin tempat dia menempel, dan itu perbaikannya bakal jauh lebih mahal daripada sekadar servis AC.
Nah, buat Anda yang punya truk tua dan berencana bikin kabinnya sesejuk mobil baru, pastikan pengerjaannya diserahkan ke tangan yang paham betul karakter mesin diesel dan kelistrikan alat berat. Instalasi yang benar itu investasi biar kerja makin semangat dan rezeki makin lancar. Kalau masih ragu soal hitungan ampere dinamo atau bentuk bracket yang pas buat truk kesayangan, coba main-main ke bengkel buat ngobrol santai sambil ngopi, nanti kita bantu cari setelan yang paling awet dan dingin.





