Perbedaan, Cara Kerja dan Perawatan AC Mobil Listrik (EV) vs Mobil Konvensional

Perbedaan, Cara Kerja dan Perawatan AC Mobil Listrik (EV) vs Mobil Konvensional

Sering banget ada pelanggan yang baru beralih dari mobil bensin ke mobil listrik (EV) datang ke bengkel dengan wajah bingung. Mereka merasa AC mobil barunya “terlalu sunyi” atau kadang justru panik karena mendengar suara dengung halus saat mobil sedang diam.

Padahal kalau di mobil konvensional, suara kompresor itu kalah sama raungan mesin. Rasa cemas ini wajar kok, apalagi teknologi EV memang barang baru buat kebanyakan orang. Masalahnya, ketidaktahuan ini sering bikin pemilik mobil salah perlakuan. Dipikirnya perawatan sama saja kayak mobil bensin biasa, asal dingin ya sudah. Padahal, sistem AC di mobil listrik itu punya risiko fatal kalau ditangani sembarangan, terutama urusan tegangan tinggi dan jenis oli yang dipakai.

Kalau AC mobil bensin rusak, paling banter Anda cuma kepanasan di jalan. Tapi kalau AC mobil listrik yang bermasalah, efeknya bisa merembet ke performa baterai utama, bahkan mobil bisa mogok total karena sistem pendingin baterai seringkali terintegrasi dengan sistem AC kabin. Nah, biar nggak salah langkah dan dompet nggak jebol gara-gara salah servis, kita bedah bareng-bareng apa saja bedanya.

Kompresor Elektrik vs Belt-Driven

Perbedaan paling mencolok ada di cara kerja kompresornya. Di mobil konvensional atau bensin, kompresor AC itu ibarat benalu yang nempel di mesin. Dia butuh putaran mesin lewat fan belt atau sabuk kipas buat bisa bekerja. Makanya, kalau Anda lagi terjebak macet parah dan mesin cuma stasioner (idle), kadang AC terasa “kurang nyes” atau angin doang yang keluar. Itu karena putaran kompresornya juga ikut pelan mengikuti mesin. Belum lagi kalau magnetic clutch sudah mulai aus, pasti ada bunyi “cetak-cetek” yang kadang bikin risih.

Sementara di mobil listrik, ceritanya beda total. Kompresor AC-nya bekerja mandiri pakai motor listrik tegangan tinggi (High Voltage) yang sumber tenaganya langsung dari baterai utama. Dia nggak butuh mesin buat muter, dan nggak ada tuh urusan fan belt putus atau selip. Kelebihannya jelas, AC tetap bisa dingin maksimal meski mobil sedang berhenti total di lampu merah. Kompresor jenis ini biasanya tipe scroll yang putarannya halus banget, jadi nggak ada lagi suara ngorok kasar kayak kompresor piston tua.

Oli Kompresor: Jangan Pernah Asal Campur!

Ini bagian yang paling krusial dan sering bikin mekanik pemula atau pemilik mobil “kecolongan”. Oli kompresor itu ibarat darah dalam sistem AC. Di mobil bensin biasa, kita umum pakai oli jenis PAG (Polyalkylene Glycol). Tapi, oli PAG ini sifatnya konduktif atau bisa menghantarkan listrik. Bayangkan kalau oli ini dimasukkan ke kompresor mobil listrik yang gulungan dinamonya terendam oli dan dialiri listrik tegangan tinggi.

Akibatnya bisa fatal. Bisa terjadi kebocoran arus listrik (short circuit) di dalam kompresor. Kalau sensor mobil mendeteksi kebocoran arus ini, sistem keamanan bakal langsung memutus aliran listrik demi keselamatan, dan mobil Anda bakal mati total alias mogok. Makanya, mobil listrik WAJIB pakai oli jenis POE (Polyol Ester) yang sifatnya isolator alias tidak menghantarkan listrik. Ini alasan kenapa alat servis seperti selang manifold buat mobil listrik dan mobil bensin harus dipisah. Bekas oli PAG yang nempel di selang saja sudah cukup buat bikin masalah di sistem EV.

Peran Ganda AC Mobil Listrik

Kalau di mobil biasa, AC tugasnya cuma satu, yaitu mendinginkan kabin biar supir dan penumpang nggak keringatan. Tapi di mobil listrik, tugas AC itu jauh lebih berat. Sistem refrigeran AC seringkali juga dipakai untuk mendinginkan baterai utama lewat sistem thermal management. Baterai EV itu musuhnya panas. Kalau pas lagi ngebut atau lagi ngecas (fast charging), baterai bakal panas banget.

Di sinilah sistem AC bekerja keras mendinginkan baterai supaya umurnya awet dan performanya terjaga. Jadi kalau freon kurang atau ada mampet di sistem AC mobil listrik, yang terancam bukan cuma kenyamanan Anda, tapi juga kesehatan baterai mobil yang harganya bisa setengah harga mobil itu sendiri. Jangan heran kalau pas lagi ngecas di SPKLU, bunyi kipas dan kompresor AC mobil Anda mendengung kencang padahal kabin lagi kosong. Itu dia lagi sibuk “ngipasin” baterai.

Tips Perawatan Biar Nggak Jajan Banyak

Mentang-mentang mobil listrik minim perawatan mesin, bukan berarti AC-nya bisa dicuekin. Justru karena sistemnya canggih, perawatannya butuh ketelitian. Berikut beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Jaga Kebersihan Kondensor
    Karena letaknya di depan, kisi-kisi kondensor sering kena debu atau kerikil. Kalau kotor, pelepasan panas terhambat, kompresor kerja rodi, dan baterai jadi cepat panas. Semprot air tekanan rendah saja cukup buat bersihinnya.
  • Cek Filter Kabin Rutin
    Ini perawatan paling gampang tapi sering lupa. Kalau filter mampet, aliran udara terhambat, evaporator bisa beku dan jadi sarang bakteri. Efeknya bau apek dan angin jadi ngempos.
  • Perhatikan Kolong Mobil
    Karena jalur pipa AC dan pendingin baterai kadang lewat bawah, hati-hati kalau lewat jalan rusak atau polisi tidur tinggi. Pastikan nggak ada penyok atau rembesan cairan di kolong.

Merawat AC mobil listrik memang kedengarannya lebih rumit karena mainannya tegangan tinggi dan sensor. Tapi sebenarnya, selama kita disiplin dan nggak sembarangan masukin oli atau freon, sistem ini justru lebih awet daripada AC konvensional yang banyak gerak mekanisnya.

Kuncinya ada di alat yang tepat dan pemahaman soal kelistrikan. Jadi kalau Anda mulai merasa AC mobil listriknya kurang dingin, muncul notifikasi error di dashboard, atau ada suara dengung yang nggak wajar, sebaiknya jangan coba-coba bongkar sendiri apalagi cuma modal tutorial internet. Risikonya nyawa dan kerusakan komponen mahal. Mending bawa langsung ke bengkel spesialis yang punya alat scan lengkap dan paham prosedur keamanan listrik tegangan tinggi, biar mobil kesayangan kembali sehat dan aman dipakai harian.